AHMAD
RAJAFI SAHRAN, M.Hi
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ نَوَّرَ قُلُوْبَنَا بِاْلهُدَى
وَالأَوْلاَدِ وَاَّلذِيْ أَرْحَمَنَا بِاْلمَغْفِرَةِ وَاْلأَبْنَاءِ ، أَشْهَدُ
أنْ لاإلهَ إلاّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَسُبْحَانَ الَّذِيْ
أَفْضَلَنَا عَلىَ سَائِرِ مَخْلُوْقَاتِهِ ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أُرْسِلَ إلَى جَمِيْعِ أُمَّتِهِ ، أللّهُمَّ صَلِّي
وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ سَيِّدِنَا
وَمَوْلاَنَامُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يَتَمَسَّكُوْنَ
بِسُنَّتِهِ وَدِيْنِهِ ، أمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوْا اللهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اْلأَوْلاَدَ رَعِيَّةُ كُلِّ اْلأبَاَءِ وَاْلأُمَّهَاتِ وَأَمَانَاتٌ
لِكُلِّ اْلمُجْتَمَعِ ، وَأَكْبَرْ اْلأَمَانَاتِ مِنَ اللهِ مَا عِنْدَكُمْ مِنَ
الْأوْلاَدِ واْلأحْفَادِ ، فَأََحْسِّنُوْا تَرْبِيَتَهُمْ وَهَذِّبُوْا
أخْلَاقَهُمْ وَعَلِّمُوْا بِمَا يَنْفَعُوْنَ بِهِ فِيْ دِيْنِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ
وَآخِرَتِهِمْ
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلكَرِيْمِ : ِللهِ
مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ ِلمَنْ يَشَاءُ
إنَاثاً وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُوْرَ ، أوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا
وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيْمًا إنَّهْ عَلِيْمٌ قَدِيْرٌ ، وَقَالَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهٌ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ
عَلىَ اْلفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِ أوْ يُنَصِّرَانِ أوْ يُمَجُّسَانِ
، وَقَالَ أَيْضًا : كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Hadirin
Sidang Jum’at Rokhimakumullah
Pada
Khutbah ini, saya mengingatkan kepada kita sekalian agar senantiasa mempertebal
keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Seringkali diulangi bahwa hanya
ketaqwaanlah yang dapat menjamin ketentraman hidup kita selama di dunia.
Keimanan dan ketaqwaan pula yang menjadikan kita merasa layak berharap rahmat
Allah di dunia dan akhirat. Maka marilah kita semakin mendekatkan diri kepada
Allah SWT agar jalan hidup kita senantiasa diberkahi dan diridhoi Allah SWT.
Jika kita
senantiasa meningkatkan ketaqwaan, tentu jalan hidup kita menjadi lebih mudah,
lebih nyaman dan lebih teratur dan berkesinambungan. Dalam bermasyarakat, tentu
kita menginginkan keteraturan dan kesinambungan dalam berbagai bentuk kebaikan.
Nah, salah satu di antara bentuk-bentuk kesinambungan dalam kebaikan dan
kataqwaan adalah tumbuhnya generasi-generasi penerus perjuangan dan dakwah
islamiyah. Maka dengan demikian, tentu kita menginginkan turut berperan serta
dalam melanjutkan estafet perjuangan islam ini dengan melahirkan dan mengasuh
anak-anak Muslim yang cerdas, berkarakter dan shaleh.
Rasulullah
SAW bersabda :
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلىَ اْلفِطْرَةِ ،
فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِ أوْ يُنَصِّرَانِ أوْ يُمَجُّسَانِ
“Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya.
Keduanya orang tuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani atau Majusi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya,
orang tualah yang memiliki tanggung jawab utama dalam mendidik dan menjadikan
seorang anak sebagai pribadi yang sholeh atau sebaliknya. Hal ini juga
sesuai dengan Sabda Rasulullah lainnya;
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُلٌ عَنْ
رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap
pemimpin akan diminta pertanggungjawaban.” (HR. Bukhori-Muslim)
Seorang
pemimpin pemerintahan adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban
tentang rakyatnya, suami adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban
tentang anggota keluarganya, istri adalah pemimpin dan akan diminta
pertanggungjawaban tentang rumah tangga suaminya serta anak-anaknya, dan
seorang pembantu adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang
harta benda majikannya, ingatlah bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan akan
diminta pertanggungjawaban kelak di hari Kiamat.
Saudara-saudara
Sidang Jum’at yang Dirahmati Allah
Anak
merupakan harapan setiap orang tua dalam kehidupan rumah tangga mereka. Anak
adalah kebanggaan dan dambaan. Namun terkadang anak juga dapat menjadi cobaan
yang sangat berat bagi kedua orang tuanya. Karenanya, setiap orang tua mesti
mendidik anak-anak mereka sesuai tuntunan agama Islam.
Anak-anak
yang dididik dengan Tuntunan Islam diharapkan menjadi anak-anak yang sholeh,
berbakti dan berguna bagi bangsa, negara, masyarakat dan agamanya. Tentu saja
orang tuanya adalah mereka yang pertama kali memetik buah dari kesalehan
anak-anaknya. Allah SWT berfirman,
إِمَامًا وَالَّلذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا
هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْناَ
لِلُمُتَّقِيْنَ
“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami,
anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai
penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqaan, 25:74)
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang
anak) yang termasuk orang-orang shaleh.” (QS. Ash-Shoffaat, 37:100)
Dua Ayat
ini meneguhkan kepada kita, bahwa selayaknya sebagai pribadi Muslim yang
beriman, tentu kita berharap untuk dikaruniai buah hati yang dapat dibanggakan,
shaleh-shalihah, berbakti dan berguna bagi sesamanya. Namun Allah Subhanahu
Wata’ala juga mengingatkan kita, bahwa segala anugerah yang berupa keturunan
dan segala milik kebendaan serta lain-lainnya, adalah hanya ditentukan oleh
Allah SWT. karenanya, sebagai orang beriman, tentu kita tidak boleh menyalahkan
siapa pun jika barangkali kita belum dikaruniai keturunan. Karena Allah-lah
yang telah menentukan setiap kelahiran yang telah maupun akan muncul di muka
bumi ini.
Firman
Allah :
ِللهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَخْلُقُ مَا
يَشَاءُ يَهَبُ ِلمَنْ يَشَاءُ إنَاثاً وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُوْرَ ، أوْ
يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيْمًا إنَّهْ
عَلِيْمٌ قَدِيْرٌ
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi,
Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan
kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa
yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan
perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa
yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
(QS. asy-Syura: 49-50)
Selayaknya
kita senantiasa berdoa, semoga Allah mengaruniakan kebahagiaan dunia dan
akhirat kepada kita sekalian melalui keturunan-keturunan yang shalih dan
shalihah di tengah-tengah masyarakat kita. Agar keturunan-keturunan tersebut
dapat melanjutkan estafet dakwah Islam di tengah-tengah kondisi masyarakat yang
semakin kompleks ini. Namun berdoa saja tidaklah cukup. Kita harus mengupayakan
sekuat tenaga agar dapat medidik anak-anak kita menjadi generasi yang dapat
diandalkan oleh zamannya. Kita harus memperhatikan pendidikan mereka, berusaha
menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan positif kejiwaan mereka.
Sebagai
orang tua, kita juga harus memperhatikan pergaulan anak-anak kita yang menjadi
faktor penentu dalam perkembangan sosial mereka. Kita harus mengajarkan
kesederhanaan dalam keseharian mereka. Karena Rasulullah SAW sudah contohkan,
bahwa meski hidup dalam kondisi yg sederhana, tapi kebahagiaan selalu Beliau
rasakan. Maka demikianlah mestinya kita menciptakan lingkungan sosial dan
kekeluargaan bagi anak-anak harapan generasi Islam tersebut.
Di samping
itu, hal lain yang harus kita perhatikan dalam mendidik anak adalah memberikan
Rejeki yang Halal selama pertumbuhan mereka. Karena rezeki halal dapat
mempermudah mereka menjalani kesalehan dan ketaqwaan. Sementara jika kita
kurang-hati-hati dan teledor dengan memberikan mereka asupan energi dan suplai
pertumbuhan maupun pendidikan dari rezeki halal, maka sama saja dengan
menginginkan mereka menjadi lahan empuk bagi tumbuhnya kemungkaran dalam diri
anak-anak kita sendiri. Rezeki yang halal akan memudahkan mereka menerima
hidayah dan keberkahan dalam menjalani proses pertumbuhan dan pendidikannya.
Hadirin
Sidang Jum’at yang dimuliakan oleh Allah
Marilah
kita mempertebal keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah dengan mengnalkan
jalan dakwah kepada generasi Islam sedini mungkin dengan penuh kebijakan dan
keteladanan yang mulia. Bukan zamannya lagi jika kita hanya mendidik tanpa
memperhatikan perkembangan psiokologi mereka. Bukan zamannya lagi jika kita
hanya mengandalkan kekerasan dalam medidik anak.
Memang
benar, bahwa Rasulullah SAW memperbolehkan kita untuk memukul anak-anak jika
mereka lalai mengerjakan shalat. Nemun bukan berarti dengan demikian kita dapat
memukul mereka dengan seenaknya saja. Karena anak-anak senantiasa membutuhkan
kasih sayang yang dapat mereka cerna dan mereka sadari. Anak-anak ingin
mengerti bahwa orang tua mereka menyayangi mereka, sehingga mereka dapat
membalas kasih saying tersebut dengan kesungguhan belajar dan berusaha menjadi
baik bagi lingkungan dan masyarakatnya. Artinya anak-anak akan merasa memiliki
tanggung jawab menjadi shaleh dan shalihah jika mereka juga mengerti bahwa
kedua orang tuanya mencontohkan kesalehan dan keteladanan yang baik
terhadapnya.
Tentang
hal ini, Al-Qur’an mengajarkan :
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ
هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada Tuhanmu dengan hikmah
dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari
jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. an-Nahl: 125)
Artinya,
jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang baik dan santun,
tentu kita harus mengajarkan kebaikan dan sopan santun serta etika Islam kepada
mereka. Selain itu, dalam memilihkan atau mengarahkan pendidikan bagi
anak-anak, kita dapat memperhatikan bakat dan kecenderungan mereka. Kita dapat menyekolahkan
mereka menurut bakat positifnya masing-masing, sehingga ketika telah menjadi
dewasa nantinya, mereka tidak memiliki keraguan akan kemampuan dan potensi
dirinya.
Hal ini
sesuai dengan firman Allah,
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ
وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ
الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan
umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah
dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS.
Ali Imran : 104)
Ada yang
menjadi muballigh, tentara, pedagang, guru atau pun insinyur dan lain-lain
sebagainya. Dengan demikian generasi Islam yang kita dambakan bersama dapat
segera terwujud menjadi sebuah kenyataan. Dan izzul Islam wal muslimin dapat
kita gapai bersama, karena generasi muda saat ini tentu akan menjadi pemimpin
Islam di kemudian hari.
Hadirin
siding Jum’at yang Dirahmati Allah
Hal
terpenting terakhir yang ingin saya sampaikan kepada saudara-saudara sekalian
adalah, tentang bekal paling utama kepada generasi muda kita, yakni pendidikan,
keteladanan dan ketaqwaan. Sebagaimana perkataan Abdullah bin Umar
radhiyallahu’anhu, “Didiklah anakmu karena kamu akan ditanya tentang
tanggungjawabmu, apakah sudah kamu ajari anakmu, apakah sudah kamu didik anakmu
dan kamu akan ditanya kebaikanmu kepadanya dan ketaatan anakmu kepadamu.”
Saya
nyatakan, kita harus memberikan bekal ketaqwaan yang cukup kepada mereka,
apapun profesi yang menjadi pilihan mereka kelak. Karena tanpa ketaqwaan,
mustahil mereka dapat menjadi generasi Muslim yang dapat diandalkan dan
ditunggu peran sertanya dalam pembangunan bangsa dan umat.
Sebagaimana
firman Allah,
وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ
الَّتقْوَى وَاتَّقُوْنِ يَا أُولِي اْلألْبَابِ
“Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal
adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.”
(QS. al-Baqarah : 197)
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ.
وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar