Tafsir Ibnu Katsir Surah Yaasiin
Surah Makkiyyah;
Surah ke 36: 83 ayat
“20. dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan
bergegas-gegas ia berkata: ‘Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu’. 21.
ikutilah orang yang tiada minta Balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang
yang mendapat petunjuk. 22. mengapa aku tidak menyembah (tuhan) yang telah
menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? 23.
mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain nya jika (Allah) yang Maha
Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak
memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat
menyelamatkanku? 24. Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan
yang nyata. Sesunguhnya aku telah beriman kepada Rabb-mu, maka dengarkanlah
[pengakuan keimanan]ku. (Yaasiin: 20-25)
Ats-Tsauri
berkata dari ‘Ashim al-Ahwal, dari Abu Mijlaz bahwa namanya adalah Habib bin
Surri. Syuhaib bin Bisyr berkata dari ‘Ikrimah bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: “Nama
laki-laki di surat Yaasiin adalah Habib an-Najjar yang dibunuh oleh kaumnya.”
Qatadah berkata: “Dia beribadah di sebuah gua.
Qaala
yaa qaumit tabi’ul mursaliin (“Ia berkata: Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan
itu.”) dia mendorong kaumnya untuk mengikuti utusan-utusan yang mendatangi
mereka, it-tabi’uu mallaa yas-alukum ajraa (“Ikutilah orang yang tidak minta
balasan kepadamu.”) yaitu sebagai balasan menyampaikan risalah. Wa hum
muhtaduun (“Dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Tentang apa
yang mereka serukan kepada kalian berupa beribadah kepda Allah semata Yang tidak
ada sekutu bagi-Nya.
Wa
maa liya laa a’budulladzii faththaranii (“Mengapa aku tidak menyembah [ilah]
yang telah menciptakanku.”) yaitu apa yang mencegahku untuk memurnikan ibadah
kepada Rabb yang menciptakan , Mahaesa yang tidak ada sekutu baginya? Wa ilaihi
turja’uun (“Dan hanya kepada-Nya-lah kamu [semua] akan dikembalikan.”) yaitu
pada hari dikembalikannya kalian, lalu Dia membalas kalian atas amal-amal
kalian. Jika amalnya baik maka akan dibalas dengan kebaikan, dan jika
amalnya baik buruk akan dibalas dengan keburukan.
A
attakhidzu min duunihii aalihah (“Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah
selain-Nya.”) pertanyaan, pengingkaran, ejekan dan hinaan. Iyyuridnir rahmaanu
bidlurrillaa tughni ‘annii syafaa’atuhum syai-aw walaa yungqadzuun (“Jika [Allah]
Yang Mahapemurah menghendaki kemudlaratan terhadapku, niscaya syafaat mereka
tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak
[pula] dapat menyelamatkanku.”) yaitu, ilah-ilah yang kalian sembah selain
Allah ini tidak memiliki urusan sedikitpun. Seandainya Allah Ta’ala menghendaki
keburukan bagiku, fa laa kaasyifalahuu illaahuwa (“Maka tidak ada yang dapat
menghilangkannya selain Dia sendiri.”) (al-‘An’am: 17).
Berhala-berhala
itu tidak mampu menolak dan mencegah terjadinya semua itu, dan mereka
tidak dapat menyelamatkanku dari apa yang aku alami. Innii idzal lafii
dlalaalim mubiin (“Sesungguhnya aku kalau begini pasti berada dalam kesesatan
yang nyata.”) yaitu, jika aku menjadikannya sebagai ilah-ilah lain selain
Allah. Dan firman Allah Ta’ala: innii aamantu birabbikum (“Sesungguhnya aku
telah beriman kepada Rabbmu.”) yaitu yang telah mengutus kalian, fasma’uun
(“Maka dengarkanlah [pengakuan keimanan]ku”) yaitu, maka saksikanlah oleh
kalian tentangku dalam masalah itu. Itulah yang diceritakan oleh Ibnu Jarir.
Ulama
yang lain berkata: “Bahkan, para utusan tersebut mengkhithab hal itu pula dan
dia berkata kepada mereka: ‘Dengarkanlah oleh kalian perkataanku agar
kalian menjadi saksi bagiku tentang apa yang aku katakan kepada kalian di sisi
Rabb-ku. Sesungguhnya aku beriman kepada Rabb kalian dan aku mengikuti kalian.’
Apa yang diceritakan oleh beliau ini adalah makna yang lebih jelas dalam
ayat ini. Wallaahu a’lam.
“26. dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke syurga”. ia berkata:
“Alangkah baiknya Sekiranya kamumku mengetahui. 27. apa yang menyebabkan
Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku Termasuk orang-orang yang
dimuliakan”. 28. dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah Dia
(meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.
29. tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; Maka
tiba-tiba mereka semuanya mati.” (Yaasiin: 26-29)
Allah
Ta’ala berfirman kepadanya: udkhulil jannata (“Masuklah ke surga”) lalu ia
memasukinya dan mendapatkan rizki di dalamnya. Sesungguhnya Allah telah
menghilangkan penyakit dan kedukaan dunia. Mujahid berkata: “Dikatakan kepada
Habib an-Najjar: ‘Masuklah ke dalam surga.’” Hal itu terjadi setelah dia
terbunuh, sehingga ia berhak menerimanya. Ketika dia melihat pahala, qaala yaa
laita qaumii ya’lamuun (“Ia berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku
mengetahui,’”) Qatadah berkata: Tidak ada yang dijumpai seorang Mukmin kecuali
hal yang sebenarnya dan tidak dijumpai sesuatu yang menipu, dikarenakan
tampaknya apa yang benar-benar tampak dari kemuliaan Allah Ta’ala.
Yaa
laita qaumii ya’lamuun. Bimaa ghafaralii rabbii wa ja’alanii minal mukramiin
(“Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Rabb-ku
memberikan ampun kepadaku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang
dimuliakan.”) dia berangan-angan, demi Allah, seandainya kaumku mengetahui apa
yang tampak dari karunia Allah ini dan apa yang diberikan kepadanya. Ibnu
‘Abbas berkata: “Dia menasehati kaumnya di waktu kehidupannya dengan perkataannya:
yaa qaumit tabi’ul mursaliin (“Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu.”) dan
setelah kematiannya: Yaa laita qaumii ya’lamuun. Bimaa ghafaralii rabbii wa
ja’alanii minal mukramiin (“Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa
yang menyebabkan Rabb-ku memberikan ampun kepadaku dan menjadikanku termasuk
orang-orang yang dimuliakan.”) (HR Ibnu Abi Hatim).
Syfan
ats-Tsauri berkata dari ‘Ashim al-Ahwal, dari Abu Mijlaz, Bimaa ghafaralii
rabbii wa ja’alanii minal mukramiin (“Apa yang menyebabkan Rabb-ku memberikan
ampun kepadaku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”) dengan
keimananku kepada Rabb-ku dan membenarkan para utusan. Maksudnya adalah,
seandainya mereka melihat apa yang aku terima berupa pahala dan balasan nikmat
yang melimpah, niscaya hal itu akan membawa mereka untuk mengikuti para Rasul.
Lalu Allah merahmati dan meridlainya, dikarenakan dia begitu antusias
untuk memberikan hidayah kepada kaumnya.
Dan
firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala: wa maa anzalnaa ‘alaa qaumihii mim ba’di min
jundim minas samaa-I wa maa kunnaa munziliin (“Dan Kami tidak menurunkan kepada
kaumnya sesudah dia [meninggal] suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak
Kami menurunkannya.”) Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menghukum kaumnya
setelah mereka membunuhnya karena kemurkaan-Nya kepada mereka. Hal itu
dikarenakan mereka mendustakan Rasul-Rasul-Nya dan membunuh wali-Nya. Allah
menyebutkan bahwa Dia tidak menurunkan pasukan Malaikat kepada mereka untuk
membinasakan mereka. Akan tetapi, semua itu lebih ringan bagi-Nya. Dikatakan
oleh Ibnu Mas’ud sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari sebagian
sahabatnya.
Ing kaanat illaa
shaihataw waahidatang fa-idzaahum khaamiduun (“Tidak ada siksaan atas mereka
melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mat.”) lalu
Allah Ta’ala membinasakan kerajaan tersebut dan penduduk Antokia, sehingga
mereka lenyap dari permukaan bumi dan tidak ada yang tersisa sedikitpun. Para
ahli tafsir berkata: “Allah Ta’ala mengutus kepada mereka Malaikat Jibril,
lalu dia mengambil dua tiang pintu [kusen pintu] gerbang kota mereka dengan
berteriak satu kali teriakan. Tiba-tiba mereka semua mati, tidak adda satu ruh
pun yang tersisa dan kembali kepada jasadnya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar