Sabtu, 14 Februari 2015

Tafsir Al-Qur’an Surah Yaasiin (4)



Tafsir Ibnu Katsir Surah Yaasiin
Surah Makkiyyah; Surah ke 36: 83 ayat

“20. dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: ‘Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu’. 21. ikutilah orang yang tiada minta Balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. 22. mengapa aku tidak menyembah (tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? 23. mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain nya jika (Allah) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? 24. Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesunguhnya aku telah beriman kepada Rabb-mu, maka dengarkanlah [pengakuan keimanan]ku. (Yaasiin: 20-25)
Ats-Tsauri berkata dari ‘Ashim al-Ahwal, dari Abu Mijlaz bahwa namanya adalah Habib bin Surri. Syuhaib bin Bisyr berkata dari ‘Ikrimah bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: “Nama laki-laki di surat Yaasiin adalah Habib an-Najjar yang dibunuh oleh kaumnya.” Qatadah berkata: “Dia beribadah di sebuah gua.
Qaala yaa qaumit tabi’ul mursaliin (“Ia berkata: Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu.”) dia mendorong kaumnya untuk mengikuti utusan-utusan yang mendatangi mereka, it-tabi’uu mallaa yas-alukum ajraa (“Ikutilah orang yang tidak minta balasan kepadamu.”) yaitu sebagai balasan menyampaikan risalah. Wa hum muhtaduun (“Dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Tentang apa yang mereka serukan kepada kalian berupa beribadah kepda Allah semata Yang tidak ada sekutu bagi-Nya.
Wa maa liya laa a’budulladzii faththaranii (“Mengapa aku tidak menyembah [ilah] yang telah menciptakanku.”) yaitu apa yang mencegahku untuk memurnikan ibadah kepada Rabb yang menciptakan , Mahaesa yang tidak ada sekutu baginya? Wa ilaihi turja’uun (“Dan hanya kepada-Nya-lah kamu [semua] akan dikembalikan.”) yaitu pada hari dikembalikannya kalian, lalu Dia membalas kalian atas amal-amal kalian. Jika amalnya baik maka akan dibalas dengan kebaikan,  dan jika amalnya baik buruk akan dibalas dengan keburukan.
A attakhidzu min duunihii aalihah (“Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selain-Nya.”) pertanyaan, pengingkaran, ejekan dan hinaan. Iyyuridnir rahmaanu bidlurrillaa tughni ‘annii syafaa’atuhum syai-aw walaa yungqadzuun (“Jika [Allah] Yang Mahapemurah menghendaki kemudlaratan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak  memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak  [pula] dapat menyelamatkanku.”) yaitu, ilah-ilah yang kalian sembah selain Allah ini tidak memiliki urusan sedikitpun. Seandainya Allah Ta’ala menghendaki keburukan bagiku, fa laa kaasyifalahuu illaahuwa (“Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia sendiri.”) (al-‘An’am: 17).
Berhala-berhala itu tidak mampu  menolak dan mencegah terjadinya semua itu, dan mereka tidak dapat menyelamatkanku dari apa yang aku alami. Innii idzal lafii dlalaalim mubiin (“Sesungguhnya aku kalau begini pasti berada dalam kesesatan yang nyata.”) yaitu, jika aku menjadikannya  sebagai ilah-ilah lain selain Allah. Dan firman Allah Ta’ala: innii aamantu birabbikum (“Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu.”) yaitu yang telah mengutus kalian, fasma’uun (“Maka dengarkanlah [pengakuan keimanan]ku”) yaitu, maka saksikanlah oleh kalian tentangku dalam masalah itu. Itulah yang diceritakan oleh Ibnu Jarir.
Ulama yang lain berkata: “Bahkan, para utusan tersebut mengkhithab hal itu pula dan dia  berkata kepada mereka: ‘Dengarkanlah oleh kalian perkataanku agar kalian menjadi saksi bagiku tentang apa yang aku katakan kepada kalian di sisi Rabb-ku. Sesungguhnya aku beriman kepada Rabb kalian dan aku mengikuti kalian.’ Apa yang diceritakan  oleh beliau ini adalah makna yang lebih jelas dalam ayat ini. Wallaahu a’lam.
“26. dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke syurga”. ia berkata: “Alangkah baiknya Sekiranya kamumku mengetahui. 27. apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku Termasuk orang-orang yang dimuliakan”. 28. dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah Dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. 29. tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; Maka tiba-tiba mereka semuanya mati.” (Yaasiin: 26-29)
Allah Ta’ala berfirman kepadanya: udkhulil jannata (“Masuklah ke surga”) lalu ia memasukinya dan mendapatkan rizki di dalamnya. Sesungguhnya Allah telah menghilangkan penyakit dan kedukaan dunia. Mujahid berkata: “Dikatakan kepada Habib an-Najjar: ‘Masuklah ke dalam surga.’” Hal itu terjadi setelah dia terbunuh, sehingga ia berhak menerimanya. Ketika dia melihat pahala, qaala yaa laita qaumii ya’lamuun (“Ia berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,’”) Qatadah berkata: Tidak ada yang dijumpai seorang Mukmin kecuali hal yang sebenarnya dan tidak dijumpai sesuatu yang menipu, dikarenakan tampaknya apa yang benar-benar tampak dari kemuliaan Allah Ta’ala.
Yaa laita qaumii ya’lamuun. Bimaa ghafaralii rabbii wa ja’alanii minal mukramiin (“Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Rabb-ku memberikan ampun kepadaku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”) dia berangan-angan, demi Allah, seandainya kaumku mengetahui apa yang tampak dari karunia Allah ini dan apa yang diberikan kepadanya. Ibnu ‘Abbas berkata: “Dia menasehati kaumnya di waktu kehidupannya dengan perkataannya:  yaa qaumit tabi’ul mursaliin (“Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu.”) dan setelah kematiannya: Yaa laita qaumii ya’lamuun. Bimaa ghafaralii rabbii wa ja’alanii minal mukramiin (“Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Rabb-ku memberikan ampun kepadaku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”) (HR Ibnu Abi Hatim).
Syfan ats-Tsauri berkata dari ‘Ashim al-Ahwal, dari Abu Mijlaz, Bimaa ghafaralii rabbii wa ja’alanii minal mukramiin (“Apa yang menyebabkan Rabb-ku memberikan ampun kepadaku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”) dengan keimananku kepada Rabb-ku dan membenarkan para utusan. Maksudnya adalah, seandainya mereka melihat apa yang aku terima berupa pahala dan balasan nikmat yang melimpah, niscaya hal itu akan membawa mereka untuk mengikuti para Rasul. Lalu Allah merahmati dan meridlainya, dikarenakan  dia begitu antusias untuk memberikan hidayah kepada kaumnya.
Dan firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala: wa maa anzalnaa ‘alaa qaumihii mim ba’di min jundim minas samaa-I wa maa kunnaa munziliin (“Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia [meninggal] suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.”) Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menghukum kaumnya setelah mereka membunuhnya karena kemurkaan-Nya kepada mereka. Hal itu dikarenakan mereka mendustakan Rasul-Rasul-Nya dan membunuh wali-Nya. Allah menyebutkan bahwa Dia tidak menurunkan pasukan Malaikat kepada mereka untuk membinasakan mereka. Akan tetapi, semua itu lebih ringan bagi-Nya. Dikatakan oleh Ibnu Mas’ud sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari sebagian sahabatnya.

Ing kaanat illaa shaihataw waahidatang fa-idzaahum khaamiduun (“Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mat.”) lalu Allah Ta’ala membinasakan kerajaan tersebut dan penduduk Antokia, sehingga mereka lenyap dari permukaan bumi dan tidak ada yang tersisa sedikitpun. Para ahli tafsir berkata: “Allah Ta’ala mengutus kepada mereka  Malaikat Jibril, lalu dia mengambil dua tiang pintu [kusen pintu] gerbang kota mereka dengan berteriak satu kali teriakan. Tiba-tiba mereka semua mati, tidak adda satu ruh pun yang tersisa dan kembali kepada jasadnya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar